Laman

 Nama Eka Ilman M

 Kelas 3kb03

 NPM 22110274

 

 POLUSI SUARA 

                                                                                                                                 I.            PENDAHULUAN

  A.    Latar Belakang
Kehidupan modern sekarang ini sepertinya jadi perjuangan yang tak berkesudahan untuk melawan hiruk-pikuk yang kian meningkat. Berkembangnya elektronik yang dapat meringankan pekerjaan manusia. Saat berada di rumah, telinga kita diisi oleh riuhnya suara binatang peliharaan, televisi, dan banyak hal lain. Saat berada di jalan, kita juga mendengar keriuhan lain seperti suara  proyek pembangunan, suara kendaraan umum yang menderu dan musik yang dinyalakan orang lain.
Berada dilingkungan  dengan suara yang nyaring dapat menimbulkan rasa terganggu, apabila terlalu sering berada dilingkungan tersebut dapat berakibat fatal baik secara psikis dan fisik bagi manusia. Namun banyak orang yang menyepelekan dampak tersebut, misalkan pekerja pabrik yang setiap hari berada dilingkungan yang riuh, suara yang berlebihan tersebut dapat disebut sebagai polusi bagi para pekerja tersebut, oleh sebab itu perlu adanya upaya untuk mengurangi dampak dari polusi tersebut.
  B.     Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat disusun rumusan masalah sebagai berikut
1.      Apakah yang dimaksud dengan polusi suara?
2.      Berapakah taraf intensitas dari berbagai sumber bunyi?
3.      Apa sumber polusi suara dan dampaknya bagi pekerja pabrik?
4.      Bagaimanakah upaya untuk menanggulangi polusi suara di pabrik-pabrik?
  C.     Tujuan
1.      Mengetahui pengertian dari polusi cahaya
2.      Mengetahui taraf intensitas dari berbagai sumber bunyi
3.      Mengetahui sumber polusi suara dan dampaknya pada pekerja di industri / pabrik
4.      Mengetahui upaya penanggulangan polusi suara di industri / pabrik
            II.            PEMBAHASAN
  A.    Pengertian polusi suara
Bunyi adalah suatu bentuk gelombang longitudinal yang merambat secara perapatan dan perenggangan terbentuk oleh partikel zat perantara serta ditimbulkan oleh sumber bunyi yang mengalami getaran.
Polusi suara atau pencemaran suara adalah gangguan pada lingkungan yang diakibatkan oleh bunyi atau suara yang mengakibatkan ketidaktentraman makhluk hidup di sekitarnya. Pencemaran suara diakibatkan suara-suara bervolume tinggi yang membuat daerah sekitarnya menjadi bising dan tidak menyenangkan.
Bunyi yang menimbulkan kebisingan disebabkan oleh sumber suara yang bergetar. Getaran sumber suara ini mengganggu keseimbangan molekul udara sekitarnya sehingga molekul-molekul udara ikut bergetar. Getaran sumber ini menyebabkan terjadinya gelombang rambatan energi mekanis dalam medium udara menurut pola rambatan longitudinal. Rambatan gelombang diudara ini dikenal sebagai suara atau bunyi sedangkan dengan konteks ruang dan waktu sehingga dapat menimbulkan gangguan kenyamanan dan kesehatan.
Bunyi dapat mencemarkan lingungan apabila merupakan gangguan bagi penghuninya. Gangguan yang dialami oleh manusia ada dua macam yaitu gangguan psikologis dan gangguan fisiologis. Tidak semua bunyi keras atau gaduh dirasakan sebagai gangguan. Hal itu tergantung pada perasaan dan kebiasaan masing-masing individu. Antara lain hal itu tergantung juga pada taraf bunyi ambang.
Bunyi ambang adalah bunyi yang biasa ada dalam suatu ruangan, berasal dari bermacam-macam sumber bunyi baik dari luar maupun dari dalam ruangan itu sendiri. Bunyi tersebut sudah begitu biasa bagi penghuni ruangan itu. Sehingga sudah bukan merupakan gangguan lagi bagi penghininya. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa seseorang sudah terbiasa dengan kebisingan terhindar dari dampak buruk dari bunyi dengan kenyaringan yang cukup tinggi
  B.     Macam-macam taraf intensitas dari berbagai sumber bunyi
1.      Taraf intenstas rendah (dinyatakan dalam Desibel)
a.       0 dB ( ambang pendengaran)
b.      10 dB (hampir tidak terdengar) contohnya bernafas normal
c.       20-30 dB (sangat tenang) contohnya ruang yang sangat sunyi, daun yang berdesir,bisikan lembut dari jarak 5 meter.
d.      40-50 dB (tenang) contohnya perpustakaan, kantor yang tenang, dll
2.      Taraf intensitas konstan
a.       60 dB contohnya percakapan biasa pada arak 1 meter.
b.      70 dB contohnya lalu lintas ramai, kantor bising.
c.       80 dB contohnya ruang kuliah, radio berbunyi keras,pabrik dengan mesin sederhana atau biasa, dll
3.      Taraf intensitas tinggi
a.       90 -110 dB(merusak pendengaran) contohnya air terjun Niagara, kereta tua, kebisingan konstruksi dll
b.      120 dB (ambang ketidak nyamanan) misalnya koser rock dengan amplifier(pada jarak 2 meter), jet tinggal landas (pada jarak 60 meter) yang apabila berlangsung lama maka pendengaran manusia akan rusak.
c.       130 dB contohnya senapan mesin.
d.      140-150 dB (ambang rasa sakit) seperti jet tinggal landas (pada jarak dekat).
e.       160-180 dB (kerusakan mekanik selaput telinga) misalnya mesin roket besar pada jarak dekat.
                                   Batas atas pendengaran sampai saat ini masih merupakan suatu konsep yang kurang jelas. Pada saat taraf intensitas bunyi dinaikan sampai 110 dB, seseorang bunyi itu ditelinga luar. Baru pada taraf intensitas yang lebih tinggi yaitu sekitar 130 dB, seseorang mulai merasakan sakit. Jika taraf intensitas dinaikan menjadi 145 dB rasa sakitnya sangat hebat. Dan jika tarafnya dinaikan lagi dapat menyebabkan kendang telinga pecah. Taraf intensitas bunyi yang dapat menyebabkan kendang telinga retak merupakan batas atas yang masih dapat didengar.
  C.     Sumber polusi suara pada industri beserta dampaknya
1.      Sumber polusi suara pada tempat industri / pabrik
                                   Sumber pencemaran bunyi ialah sumber bunyi yang kehadirannya dianggap mengganggu pendengaran baik dari sumber bergerak maupun tidak bergerak. Di industri, sumber kebisingan dapat di klasifikasikan menjadi 3 macam, yaitu:
a.       Mesin, yaitu kebisingan yang ditimbulkan oleh aktifitas mesin.
b.       Vibrasi, yaitu kebisingan yang ditimbulkan oleh akibat getaran yang ditimbulkan akibat gesekan, benturan atau ketidak seimbangan gerakan bagian mesin. Terjadi pada roda gigi, roda gila, batang torsi, piston, fan, bearing, dan lain-lain.
c.       Pergerakan udara, gas dan cairan, yaitu kebisingan ini di timbulkan akibat pergerakan udara, gas, dan cairan dalam kegiatan proses kerja industri misalnya pada pipa penyalur cairan gas, outlet pipa, gas buang, jet, flare boom, dan lain-lain.
2.      Dampak polusi suara bagi pekerja pabrik
a.        Gangguan Fisiologis
Pada umumnya, bising bernada tinggi sangat mengganggu, apalagi bila terputus-putus atau yang datangnya tiba-tiba. Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah (± 10 mmHg), peningkatan nadi, konstriksi pembuluh darah perifer terutama pada tangan dan kaki, serta dapat menyebabkan pucat dan gangguan sensoris. Bising dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan pusing/sakit kepala.
b.       Gangguan Psikologis
Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman, kurang konsentrasi, susah tidur, dan cepat marah. Bila kebisingan diterima dalam waktu lama dapat menyebabkan penyakit psikosomatik berupa gastritis, jantung, stres, kelelahan dan lain-lain.
c.       Gangguan Komunikasi
Gangguan komunikasi biasanya disebabkan masking effect (bunyi yang menutupi pendengaran yang kurang jelas) atau gangguan kejelasan suara. Komunikasi pembicaraan harus dilakukan dengan cara berteriak. Gangguan ini menyebabkan terganggunya pekerjaan, sampai pada kemungkinan terjadinya kesalahan karena tidak mendengar isyarat atau tanda bahaya. Gangguan komunikasi ini secara tidak langsung membahayakan keselamatan seseorang.
d.      Efek pada pendengaran
Pengaruh utama dari bising pada kesehatan adalah kerusakan pada indera pendengaran, yang menyebabkan tuli progresif dan efek ini telah diketahui dan diterima secara umum dari zaman dulu. Mula-mula efek bising pada pendengaran adalah sementara dan pemuliahan terjadi secara cepat sesudah pekerjaan di area bising dihentikan. Akan tetapi apabila bekerja terus-menerus di area bising maka akan terjadi tuli menetap dan tidak dapat normal kembali, biasanya dimulai pada frekuensi 4000 Hz dan kemudian makin meluas kefrekuensi sekitarnya dan akhirnya mengenai frekuensi yang biasanya digunakan untuk percakapan.
D.    Upaya untuk meminimalisir polusi suara di tempat industri / pabrik
1.      Mendesain mesin / peralatan dengan kebisingan rendah.
2.      Memberikan penghalang untuk mengontrol kebisingan.
3.      Menggunakan alat / perangkat seperti penutup telinga.
4.      Melindungi reseptor suara seperti membuat bangunan yang bisa mengisolasi kebisingan dan membuatnya kedap suara. Alat peredam suara, kini banyak digunakan sistem kendali bising yang aktif.
a.       Dimensi Bangunan Peredam Bising tersebut antara lain:
 Tinggi minimal 2,75m (makin tinggi kemampuan redaman makin baik). Dengan tebal dinding minimal 10 cm.
b.      Bahan bangunan peredam bising, yaitu :
1)   Penggunaan bahan untuk mereduksi bising adalah dari hasil olahan industri berupa beton ringan agregat yang disebut ALWA berupa konblok (masif) dengan komposisi campuran: Semen : Pasir : ALWA= 1 : 4 : 4
2)      Dimensi konblok ALWA dapat dicetak menurut ukuran pabrik, sebagai berikut: (30 x 10 x 15) atau (30x15x15)cm.
3)      Bahan selain ALWA seperti Bata Merah atau Batako harus dengan rancangan khusus untuk memperoleh kemampuan redaman bising yang baik.
                                   III.            PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pencemaran bunyi / suara adalah gangguan pada lingkungan yang diakibatkan oleh bunyi atau suara yang mengakibatkan ketidaktentraman makhluk hidup disekitarnya. Pencemaran suara diakibatkan suara-suara bervolume tinggi yang membuat daerah disekitarnya menjadi bising dan tidak menyenangkan. Dampaknya terjadi pada setiap individu yang berada dilingkungan polusi suara tsb, baik secara fisik maupun psikisnya. Seperti halnya pada pekerja di industri atau pabrik-pabrik. Namun hal tsb dapat diminimalisir  dengan menanggulangi gangguan bunyi atau mengisolasi bunyi, yaitu mengurangi bunyi supaya terpisah dari benda lain.
B.     Saran
Dalam mengupayakan pengurangan polusi suara pada pekerja dipabrik-pabrik, perlu adanya perhatian yang serius oleh masing-masing individu  pekerja pabrik untuk kesadarannya agar terhindar dari dampak-dampak polusi suara. Perlunya perhatian dari pihak pemilik pabrik agar membuat bangunan yang sesuai demi keselamatan para pekerja dari dampak polusi suara.

 

SELAMAT DATANG  

EULER

NAMA  : EKA ILMAN MUNANDAR

NPM     : 22110274

KELAS : 3KB03

5 kalimat dari 5 konsep lingkaran euler
1. semua S adalah semua P (5 klimat) *
2. semua S adalah P (5 klimat) *
3. tidak satupun S adalah P(5 klimat) *
4. sebagian S adalah P(5 klimat)
5. sebagian S tidaklah P(5 klimat) *

Penalaran adalah suatu proses berpikir manusia untuk menghubung-hubungkan data atau fakta yang ada sehingga sampai pada suatu simpulan. Fakta atau data yang akan dinalar itu boleh benar dan boleh tidak benar. Kalimat pernyataan yang dapat dipergunakan sebagai data itu disebut Proposisi.

Proposisi berbentuk kalimat berita netral. Kalimat tanya, kalimat perintah, kalimat harapan, dan kalimat inversi tidak disebut proposisi.
Contoh proposisi :
1. Ayam adalah burung
2. Indonesia menjadi negara makmur.

Proposisi dapat dibedakan berdasarkan Jenis dan Kriteria. Berdasarkan jenis dibedakan dengan lingkaran yang disebut lingkaran Euler.

* Suatu perangkat yang tercakup dalam subjek menjadi
   bagian dari perangkat predikat. Semua S adalah P
   * Semua sepeda beroda

   * Semua makhluk ciptaan tuhan
   * Semua orang kaya mempunyai uang
   * Semua air adalah bening
   * Semua air sungai rasanya tawar
* Sebagian perangkat yang tercakup dalam subjek berada di luar perangkat predikat.  
   Sebagian S tidaklah P
   * Sebagian kaca tidaklah bening
   * Sebagian ular tidaklah berbisa
   * Sebagian wanita tidaklah berambut panjang
   * Sebagian meja tidaklah terbuat dari kayu
   * Sebagian mobil tidaklah murah  

* Suatu perangkat yang tercakup dalam subjek berada diluar perangkat predikat. Dengan kata lain, antara   
   subjek dan predikat tidak terdapat relasi. Tidak satu pun S adalah P
   * Tidak seorang pun manusia adalah binatang

   * Tidak satupun manusia adalah berbelalai
   * T idak semua hewan adalah tumbuhan 
   * Tidak satupun raja adalah perempuan
   * Tidak semua kemeja adalah celana   

* Suatu perangkat yang tercakup dalam subjek sama dengan perangkat yang terdapat dalam predikat. 
   Semua S adalah semua P 
   * Semua sehat adalah semua tidak sakit.
   * Semua  senang adalah semua tidak sedih
   * Semua pandai adalah semua yang tidak bodoh
   * Semua lupa adalah semua tidak ingat
   * Semua dingin adalah semua yang tidak panas

* Suatu perangkat predikat merupakan bagian dari perangkat subjek. Sebagian S adalah P
  * Sebagian binatang adalah kera
  * Sebagian kendaraan adalah motor
  * Sebagian yang berwarna kuning adalah jeruk
  * Sebagian monster adalah jahat
  * Sebagian yang bernafas adalah mahluk hidup


Berdasarkan jenis dibedakan dengan lingkaran yang disebut lingkaran Euler.

1. Suatu perangkat yang tercakup dalam subjek sama dengan perangkat yang terdapat dalam predikat.
   Semua S adalah semua P
   Semua sakit adalah semua tidak sehat.
 
2. Suatu perangkat yang tercakup dalam subjek menjadi bagian dari perangkat predikat.
    Semua S adalah P
    Semua pesawat terbang.
    Sebaliknya, suatu perangkat predikat merupakan bagian dari peringkat subjek
    Sebagian S adalah P
    Sebagian buah adalah apel 
 
3. Suatu perangkat yang tercakup dalam subjek berada diluar perangkat predikat. Dengan kata lain, antara
    subjek dan predikat tidak terdapat relasi.
    Tidak satu pun S adalah P
    Tidak seorang pun manusia adalah binatang 
 
4. Sebagian perangkat yang tercakup dalam subjek berada di luar perangkat predikat.
    Sebagian S tidaklah P
    Sebagian air tidaklah jernih
 
Jenis proposisi berdasarkan kriteria:
1. Berdasarkan bentuk : proposisi tunggal dan proposisi majemuk;
2. Berdasarkan sifatnya : proposisi kategorial dan proposisi kondisional;
3. Berdasarkan kualitas : proposisi posititif (afirmatif) dan proposisi negatif;
4. Berdasarkan kuantitas : proposisi umum (universal) dan proposisi khusus (partikular).
Bentuk-bentuk proposisi
Berdasarkan dua jenis proposisi, yaitu berdasarkan kualitas dan kuantitas didapat empat macam proposisi, yaitu
1) Proposisi umum-positif – proposisi A
2) Proposisi umum-negatif – proposisi E
3) Proposisi khusus-positif – proposisi I
4) Proposisi khusus-negatif – proposisi O

Ref : http://bakuraseno.blogspot.com/2010/03/proposisi.html

EKA ILMAN MUNANDAR
3KB03 

LCD

TEKNOLOGI liquid crystal displays (LCD) menawarkan beberapa kemajuan dibanding peraga (display) tradisional yang masih mengandalkan teknologi usang. Sebut saja misalnya peraga tabung sinar katoda (cathode-ray tube display) atau lebih dikenal dengan nama CRT. Peraga dengan teknologi LCD sangat ideal untuk diaplikasikan ke beberapa peranti.

Keunggulan peraga LCD terutama karena bentuk layarnya yang datar (flat) dan hanya menggunakan elemen kecil sehingga energi yang dibutuhkan juga kecil. LCD lebih memudahkan pembacaan dan menciptakan kenyamanan kerja di depan komputer dalam waktu lama. Hal ini berbeda dengan penggunaan layar CTR yang memiliki banyak keterbatasan sudut pandang, tingkat kecerahan dan kontras yang rendah, serta berbiaya tinggi. Memang, riset mengenai layar CTR terus dilakukan untuk meminimalisasi berbagai keterbatasan yang ada. Namun, hasilnya belum signifikan.

Saat ini, peraga dengan teknologi LCD dibagi ke dalam dua bagian, yaitu LCD pasif matriks dan aktif matriks. Peraga LCD jenis pasif matriks jauh lebih murah harganya dibanding dengan peraga LCD jenis aktif matriks. Peraga LCD jenis pasif matriks memiliki kualitas gambar, sudut pandang, dan response time dengan konsumsi energi dan biaya produksi lebih rendah. Sedangkan peraga LCD aktif matriks yang dapat menghasilkan kualitas gambar dan karakteristik penglihatan lebih unggul, tetapi lebih banyak mengonsumsi energi dan berbiaya produksi lebih tinggi.

Sejarah LCD

Ke mana pun kita lihat, pasti menjumpai peranti elektronik yang salah satu bagiannya terdapat LCD. Untuk sekadar menyebut contoh beberapa peranti yang menggunakan LCD adalah jam digital, pesawat televisi, hingga laptop. Meski demikian, untuk mencapai kemajuan dan bisa menikmati teknologi LCD seperti yang ada sekarang, dibutuhkan waktu yang panjang. Mulai dari penelitian tentang liquid crystal sampai dengan pengaplikasian LCD ke dalam berbagai peranti yang saat ini kita nikmati.

Liquid crystal mulai diteliti ahun 1888, oleh seorang ahli botani berkebangsaan Austria, Friedrich Reinitzer. Reinitzer mengamati tentang sebuah proses saat dia meleburkan sebuah kolesterol ajaib seperti bahan cholesteryl benzoate, yang untuk pertama kalinya menjadi sebuah pengabutan cairan dan selanjutnya menjadi murni sebagai suhu rose flower. Selama pendinginan, cairan berubah menjadi warna biru sebelum pada akhirnya terjadi pengkristalan.


Delapan puluh tahun dilalui sebelum perusahaan RCA memproduksi untuk pertama kalinya produk LCD ekperimental pada tahun 1968. Sejak saat itu, LCD diproduksi dan dikembangkan dengan berbagai variasi dan pengembangan teknologi. Hal itu menjadikannya menduduki tingkat yang menakjubkan dari segi kerumitan teknis.

Ini adalah sebuah indikasi akan berlanjutnya pengembangan LCD baru di masa depan. Contohnya adalah "Two-Way Viewing-Angle LCD," sebuah teknologi baru LCD hasil inovasi dari raksasa elektronik dari Jepang, Sharp. Seperti apakah teknologi LCD terbaru dari Sharp ini dan apa keunggulannya dari produk LCD yang telah ada? Mari kita ungkap bersama di bawah ini!

"Two-Way Viewing-Angle" LCD

Beberapa tahun yang lalu--bahkan saat ini--untuk dapat menyaksikan dua buah tayangan dalam sebuah layar peraga mutlak membutuhkan dua buah monitor. Walaupun sudah ada teknologi picture in picture, tetap saja masih dirasa kurang maksimal karena hanya berupa jendela kecil di antara jendela layar utama dan tidak bisa digunakan secara bersamaan untuk penggunaan yang berbeda. Melihat kenyataan tersebut, Sharp Corp. dan Sharp Laboratories of Europe, Ltd., mengembangkan peraga liquid-crystal display atau yang lebih lazim kita kenal LCD.




Lampu listrik


Thomas Alva Edision dari Amerika serikat mendedikasikan seluruh hidupnya untuk ilmu pengetahuan. Lebih dari 3.000 penemuan telah disumbangkan bagi umat manusia, salah satunya adalah lampu listrik. Penemuannya itupun mampu menerangi dunia dan mampu menciptakan hidup lebih bernuansa dan berkualitas.

Televisi


Penemu televisi pertama kali di dunia oleh John Logie Baird dari dkotlandia telah membawa perubahan dahsyat pada peradaban dan budaya, sehingga manusia di berbagai belahan bumi dapat menyaksikan berbagai perisiwa dan hiburan melalui gambar bergerak.



Lokomotif


Richard Trevithidk, seorang insinyur pertambangan, merasa tertantang dan dengan dedikasi yang tinggi berhasil menciptakan lokomotif uap pertama yang ninamainya New Castle. New Castle ini mampi menarik gerbong berisi 70 penumpang dan 10 gerbong barang.

Jam
Terinsterinspirasi oleh Galileo Galilei, Christian Huygens seorang ahli fisika berhasil menciptakan jam bandul akurat yang pertama di dunia. Berkat dedikasinya itu manusia memiliki pedoman waktu yang tepat dalam mengatur irama kehidupa.




Mesin cetak

Johanes Gutenberg, seorang berkebangsaan jerman menemukan mesin cetak. Ia memiliki mimpi besar untuk menyebarkan ilmu pengetahuan melalui buku, Koran dan media cetak lainnya. Dia mendedikasikan seluruh kemampuannya untuk mewujudkan mumpinya.



Charles Babbage seorang ahli matematika berbakat dari inggris dengan spirit pantang menyerah, akhirnya berhasil menemukan cikal bakal computer yang mengunakan kartu-kartu berlubang untuk memasukan data.
Rancangannya ini mampu mentimpan 100 nomor terdiri atas 40 angka dan sebuah prosesor pusat untuk menghitung,. Kini, dengan computer segala urusan manusia terbantu dengan mudah efektif dan efisien.

sejarah elektronik


inilah adalah gambar thomas edison yang lahir pada tahun 1847 di kota milan amerika serikat, dia cuma belajar selama tiga tahun lalu dia di keluar kan oleh gurunya karna sependapat guru dia sangat bodoh,

pertemuan pertama dia adalah perekam suara elektronik yang dia bikin pada umur dua puluh tahun, tetapai penemuan dia nie tidak dia jual, dan dia pun mampu menciptakan lebih dari seribu penemuan dan dia pun sangat gigih dalam menciptakan sesuatu,

Penemu serba bisa Thomas Alva Edison lahir tahun 1847 di kota Milan, Ohio, Amerika Serikat. Cuma tiga tahun dia peroleh pendidikan formal, sesudah itu disepak keluar sekolah karena si guru menganggap anak ini dungu luar biasa.
Ciptaan pertamanya, perekam suara elektronik dibikinnya tatkala umurnya dua puluh satu tahun. Hasil karyanya itu tidak dijualnya. Sesudah itu dia menekuni pembikinan peralatan yang diharapnya bisa laku terjual di pasar, tak lama sesudah dia berhasil membikin perekam suara elektronik, dia menemukan dan menyempurnakan mesin telegram yang secara otomatis mencetak huruf, yang dijualnya seharga 40.000 dolar, suatu jumlah besar pada saat itu. Sehabis itu, bagaikan antri dia menemukan hasil karya baru dan dalam tempo singkat Edison bukan saja masyhur tetapi juga berduit. Mungkin, penemuannya yang paling asli adalah mesin piringan hitam yang dipatenkannya tahun 1877. Tetapi, lebih terkenal di dunia dari itu adalah pengembangan bola lampu pijar yang praktis tahun 1879.
Edison bukan orang pertama yang menciptakan sistem penerangan listrik. Beberapa tahun sebelumnya lampu bersinarkan arus listrik telah digunakan buat penerangan lampu jalan di Paris. Tetapi, bola pijar Edison berikut sistem pembagian tenaga listrik yang dikembangkannya memungkinkan adanya penerangan listrik yang praktis untuk di rumah. Tahun 1882, perusahaannya mulai memproduksi listrik untuk rumah-rumah di New York, dan dalam tempo singkat sudah tersebar ke seluruh dunia.
Dengan berdirinya perusahaan listrik pertama untuk penerangan rumah-rumah, Edison berarti sudah meletakkan dasar bagi perkembangan industri besar. Penggunaan tenaga listrik bukan cuma buat penerangan tetapi untuk seluruh aspek kebutuhan rumah tangga, mulai dari televisi hingga mesin cuci. Lebih jauh lagi, kegunaan tenaga listrik lewat distribusi jaringan-jaringan yang didirikan Edison dengan sendirinya mendorong penggunaan listrik untuk sektor industri.
Edison juga memberi sumbangan besar luar biasa buat perkembangan kamera perfilman serta proyektor. Dia membuat penyempurnaan penting pertilponan (karbon transmiternya meningkatkan kejelasan pendengaran), penyempurnaan di bidang telegram, dan mesin tik. Diantara penemuan lainnya antara lain mesin dikte, mesin kopi dan tempat penyimpanan yang digerakkan baterei. Boleh dibilang, Edison merancang lebih dari 1000 penemuan, suatu jumlah yang betul-betul tak masuk akal.
Satu sebab produktivitasnya amat mengherankan adalah karena pada awal-awal kariernya dia membangun sebuah laboratorium penyelidikan di Menlo Park, New Jersey. Di situlah dia menghimpun kelompok pembuat yang berkemampuan membantunya. Ini adalah cikal bakal sebuah laboratorium penyelidikan yang kemudian ditiru oleh begitu banyak industri. Laboratorium pemula Edison yang modern, suatu pusat penyelidikan yang berperalatan lengkap di mana begitu banyak orang bekerja bersama merupakan suatu team, adalah pula hasil karyanya yang penting, meskipun tentu saja sesuatu yang tidak bisa dia patenkan.
Edison bukanlah seorang penemu semata; dia juga terlibat dalam pembikinan dan mengorganisir pelbagai perusahaan industri. Yang paling penting diantaranya akhirnya menjelma menjadi General Electric Company.
Meski secara pembawaan dia bukan seorang ilmuwan murni, Edison membikin satu penemuan ilmiah. Di tahun 1882 dia menemukan bahwa dalam keadaan mendekati hampa udara, arus listrik dapat dialirkan diantara dua kawat yang tidak bersentuhan satu sama lain. Fenomena ini --disebut penemuan Edison-- bukan sekedar punya maksud teoritis yang penting, tetapi juga punya arti penggunaan praktis yang bermakna. Ini menuntun ke arah perkembangan tabung hampa udara dan peletakan dasar industri elektronik.
Hampir sepenuh masa hidupnya, Edison menderita pendengaran lemah. Tetapi, meski begitu, dia lebih dari sekedar dapat mengatasi hambatan itu dengan kerja kerasnya yang mengagumkan. Edison kawin dua kali (istri pertamanya mati muda), punya tiga anak dari masing-masing istri. Dia meninggal tahun 1931 di West Orange, New Jersey.
Tak ada perselisihan paham mengenai bakat Edison. Tiap orang sepakat bahwa dialah penemu besar yang genius yang pernah hidup. Barisan penemuan-penemuannya yang amat bermanfaat dianggap menggemparkan dan membikin dengkul menggigil, meskipun mungkin saja sebagiannya dikembangkan oleh orang lain dalam tempo tiga puluh tahun. Namun, bila kita perhatikan penemuan-penemuan pribadinya, akan tampak oleh kita bahwa tak satu pun daripadanya punya arti penting yang bersifat menentukan. Misalnya bola pijar, walaupun digunakan secara luas, bukanlah barang yang tak tergantikan dalam dunia modern. Fakta menunjukkan, penerangan yang berasal dari radiasi dan keluar terpencar dalam bentuk cahaya, yang bekerja atas dasar prinsip-prinsip ilmiah yang sepenuhnya berbeda, juga digunakan orang secara luas, dan dalam kehidupan kita sehari-hari tidaklah ada bedanya apabila kita tidak menggunakan bola lampu pijar samasekali. Sesungguhnya, sebelum penerangan listrik digunakan, lilin, lampu minyak, dan lampu gas sudah secara umum dipandang sebagai kadar penerangan yang memuaskan.
Alat piringan hitam memang suatu penemuan cerdik, tetapi tak seorang pun menganggap alat itu sudah mampu mengubah kehidupan kita sehari-hari seperti halnya peranan yang disuguhkan radio, televisi atau tilpon. Lebih jauh dari itu, dalam tahun-tahun belakangan ini, telah dapat diciptakan alat perekam suara dengan metode yang sama sekali berbeda, seperti misalnya pita magnetik kaset. Dan andaikata tidak ada mesin piringan hitam, rasanya tidak apa-apa. Banyak paten-paten Edison yang berkaitan dengan penyempurnaan alat-alat, sebetulnya sudah ditemukan oleh orang lain lebih dulu, bahkan sudah dalam bentuk yang sudah bisa dimanfaatkan. Penyempurnaan-penyempurnaan ini --meski banyak menolong-- tak bisa dianggap sebagai suatu arti penting dalam rangkaian gerakan sejarah secara umum.
Tetapi, kendati tak satu pun hasil penemuan Edison memiliki arti penting yang menggemparkan, berguna juga untuk diingat bahwa dia tidak cuma menciptakan satu alat, tetapi lebih dari seribu. Atas dasar pertimbangan inilah saya menempatkan Edison lebih tinggi ketimbang penemu termasyhur seperti Guglielmo Marconi dan Alexander Graham Bell.

 RKA ILMAN MUNANDAR
3KB03

Sedikit Uraian Sejarah Pendidikan Indonesia


Kutipan yang terkenal dari Francis Bacon tersebut jelas mengungkapkan pentingnya pendidikan bagi manusia. Sumber pokok kekuatan manusia adalah pengetahuan. Mengapa? Karena manusia dengan pengetahuannya mampu melakukan olah-cipta sehingga ia mampu bertahan dalam masa yang terus maju dan berkembang.
Dan proses olah-cipta tersebut terlaksana berkat adanya sebuah aktivitas yang dinamakan PENDIDIKAN. Pendidikan menurut KBBI berarti sebuah kegiatan perbaikan tata-laku dan pendewasaan manusia melalui pengetahuan. Bila kita lihat jauh ke belakang, pendidikan yang kita kenal sekarang ini sebenarnya merupakan ”adopsi” dari berbagai model pendidikan di masa lalu.
Informasi mengenai bagaimana model pendidikan di masa prasejarah masih belum dapat terekonstruksi dengan sempurna. Namun bisa diasumsikan ”media pembelajaran” yang ada pada masa itu berkaitan dengan konteks sosial yang sederhana. Terutama berkaitan dengan adaptasi terhadap lingkungan di kelompok sosialnya.
Pendidikan Masa Hindu-Buddha
Sistem pendidikan pada masa lalu baru dapat terekam dengan baik pada masa Hindu-Buddha. Menurut Agus Aris Munandar dalam tesisnya yang berjudul Kegiatan Keagamaan di Pawitra Gunung Suci di Jawa Timur Abad 14—15(1990). Sistem pendidikan Hindu-Buddha dikenal dengan istilah karsyan. Karsyan adalah tempat yang diperuntukan bagi petapa dan untuk orang-orang yang mengundurkan diri dari keramaian dunia dengan tujuan mendekatkan diri dengan dewa tertinggi. Karsyan dibagi menjadi dua bentuk yaitu patapan dan mandala.
Patapan memiliki arti tempat bertapa, tempat dimana seseorang mengasingkan diri untuk sementara waktu hingga ia berhasil dalam menemukan petunjuk atau sesuatu yang ia cita-citakan. Ciri khasnya adalah tidak diperlukannya sebuah bangunan, seperti rumah atau pondokan. Bentuk patapan dapat sederhana, seperti gua atau ceruk, batu-batu besar, ataupun pada bangunan yang bersifat artificial. Hal ini dikarenakan jumlah Resi/Rsi yang bertapa lebih sedikit atau terbatas. Tapa berarti menahan diri dari segala bentuk hawa nafsu, orang yang bertapa biasanya mendapat bimbingan khusus dari sang guru, dengan demikian bentuk patapan biasanya hanya cukup digunakan oleh seorang saja.
Istilah kedua adalah mandala, atau disebut juga kedewaguruan. Berbeda dengan patapan, mandala merupakan tempat suci yang menjadi pusat segala kegiatan keagamaan, sebuah kawasan atau kompleks yang diperuntukan untuk para wiku/pendeta, murid, dan mungkin juga pengikutnya. Mereka hidup berkelompok dan membaktikan seluruh hidupnya untuk kepentingan agama dan nagara. Mandala tersebut dipimpin oleh dewaguru.
Berdasarkan keterangan yang terdapat pada kropak 632 yang menyebutkan bahwa ” masih berharga nilai kulit musang di tempat sampah daripada rajaputra (penguasa nagara) yang tidak mampu mempertahankan kabuyutan atau mandala hingga jatuh ke tangan orang lain” (Atja & Saleh Danasasmita, 1981: 29, 39, Ekadjati, 1995: 67), dapat diketahui bahwa nagara atau ibu kota atau juga pusat pemerintahan, biasanya dikelilingi oleh mandala. Dalam hal ini, antara mandala dan nagara tentunya mempunyai sifat saling ketergantungan. Nagara memerlukan mandala untuk dukungan yang bersifat moral dan spiritual, mandala dianggap sebagai pusat kesaktian, dan pusat kekuatan gaib.
Dengan demikian masyarakat yang tinggal di mandala mengemban tugas untuk melakukan tapa. Kemakmuran suatu negara, keamanan masyarakat serta kejayaan raja sangat tergantung dengan sikap raja terhadap kehidupan keagamaan. Oleh karena itu, nagara perlu memberi perlindungan dan keamanan, serta sebagai pemasok keperluan yang bersifat materiil (fasilitas dan makanan), agar para pendeta/wiku dan murid dapat dengan tenang mendekatkan diri dengan dewata.
Pendidikan Masa Islam
Sistem pendidikan yang ada pada masa Hindu-Buddha kemudian berlanjut pada masa Islam. Bisa dikatakan sistem pendidikan pada masa Islam merupakan bentuk akulturasi antara sistem pendidikan patapan Hindu-Buddha dengan sistem pendidikan Islam yang telah mengenal istilah uzlah (menyendiri). Akulturasi tersebut tampak pada sistem pendidikan yang mengikuti kaum agamawan Hindu-Buddha, saat guru dan murid berada dalam satu lingkungan permukiman (Schrieke, 1957: 237; Pigeaud, 1962, IV: 484—5; Munandar 1990: 310—311). Pada masa Islam sistem pendidikan itu disebut dengan pesantren atau disebut juga pondok pesantren. Berasal dari kata funduq (funduq=Arab atau pandokheyon=Yunani yang berarti tempat menginap).
Bentuk lainnya adalah, tentang pemilihan lokasi pesantren yang jauh dari keramaian dunia, keberadaannya jauh dari permukiman penduduk, jauh dari ibu kota kerajaan maupun kota-kota besar. Beberapa pesantren dibangun di atas bukit atau lereng gunung Muria, Jawa Tengah. Pesantern Giri yang terletak di atas sebuah bukit yang bernama Giri, dekat Gersik Jawa Timur (Tjandrasasmita, 1984—187). Pemilihan lokasi tersebut telah mencontoh ”gunung keramat” sebagai tempat didirikannya karsyan dan mandala yang telah ada pada masa sebelumnya (De Graaf & Pigeaud, 1985: 187).
Seperti halnya mandala, pada masa Islam istilah tersebut lebih dikenal dengan sebutan ”depok”, istilah tersebut menjadi nama sebuah kawasan yang khas di kota-kota Islam, seperti Yogyakarta, Cirebon dan Banten. Istilah depok itu sendiri berasal dari kata padepokan yang berasal dari kata patapan yang merujuk pada arti yang sama, yaitu “tempat pendidikan. Dengan demikian padepokan atau pesantren adalah sebuah sistem pendidikan yang merupakan kelanjutan sistem pendidikan sebelumnya.
Pendidikan Masa Kolonial
Pada masa ini, wajah pendidikan Indonesia lebih terlihat sebagai sosok yang memperjuangkan hak pendidikan. Hal ini dikarenakan pada saat itu, sistem pendidikan yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial adalah sistem pendidikan yang bersifat diskriminatif. Artinya hanya orang Belanda dan keturunannya saja yang boleh bersekolah, adapun pribumi yang dapat bersekolah merupakan pribumi yang berasal dari golongan priyayi. Adapun prakteknya sistem pendidikan pada masa kolonial lebih mengadopsi pendidikan ala Eropa.
Namun kemudian mulai timbul kesadaran dalam perjuangan untuk menyediakan pendidikan untuk semua kalangan, termasuk pribumi. Maka hadirlah berbagai institusi pendidikan yang lebih memihak rakyat, seperti misalnya Taman Siswa dan Muhammadiyah.
Pada masa ini sistem Eropa dan tradisional (pesantren) sama-sama berkembang. Bahkan bisa dikatakan, sistem ini mengadopsi sistem pendidikan seperti yang kita kenal sekarang: Mengandalkan sistem pendidikan pada institusi formal macam sekolah dan pesantren.
Pendidikan: Berawal dari Keluarga
Pendidikan abad 21 diwarnai dengan pengaruh globalisasi. Berbagai sistem pendidikan berlomba-lomba diadopsi, dikembangkan dan disesuaikan. Institusi-institusi pendidikan mulai menjamur. Namun muncul kritik dari beberapa orang seperti Ivan Illich, yang menganggap sistem pendidikan hanya berorientasi untuk menghasilkan tenaga kerja untuk kepentingan industri semata. Pendidikan kehilangan maknanya sebagai sarana pembelajaran.
Kemudian muncul sebuah ide Home Schooling, yaitu pendidikan yang tidak mengandalkan institusi formal, tapi tetap bisa dilakukan di rumah sesuai kurikulum. Home Schooling adalah pola pendidikan yang dilatarbelakangi adanya ketidakpercayaan terhadap fenomena negatif yang umum terdapat pada institusi formal: adanya bullying, serta metode yang didaktis dan seragam.
Namun bukan berarti institusi pendidikan formal tidak menyesuaikan diri. Kini, timbul kesadaran bahwa prestasi bukanlah angka-angka yang didapat di ujian, atau merah-birunya rapor. Melainkan adanya kesadaran akan pentingnya sebuah kurikulum berdasarkan kompetensi.
Dari rangkaian sejarah pendidikan yang panjang ini ada satu esensi yang bisa kita ambil yaitu seperti apapun bentuknya, keberhasilan pendidikan pada dasarnya tidak hanya tanggung jawab dari pengelola pendidikan saja tetapi juga menuntut peranan dari orangtua yang tidak kalah pentingnya. Sejarah akan terus berulang: Pendidikan berawal dari keluarga. (Bayu Galih/Rusyanti/Rian Timadar/Khairun Nisa, Mei 2008)